Senin, 01 Desember 2014

macam - macam mikroskop



                  MACAM-MACAM MIKROSKOP


1.      Mikroskop Cahaya

Mikroskop cahaya memiliki perbesaran maksimal 1000 kali. Mikroskop memiliki kaki yang berat dan kokoh agar dapat berdiri dengan stabil. Mikroskop cahaya memiliki tiga dimensi lensa yaitu lensa objektif, lensa okuler dan lensa kondensor. Lensa objektif dan lensa okuler terletak pada kedua ujung tabung mikroskop.Lensa okuler pada mikroskop biasa membentuk bayangan tunggal (monokuler) atau ganda (binikuler). Pada ujung bawah mikroskop terdapat dudukan lensa obektif yang biasa dipasangi tiga lensa atau lebih. Di bawah tabung mikroskop terdapat meja mikroskop yang merupakan tempat preparat. Sistem lensa yang ketiga adalah kondensor. Kondensor berperan untuk menerangi objek dan lensa mikroskop yang lain.
Pada mikroskop konvensional, sumber cahaya masih barasal dari sinar matahari yang dipantulkan oleh suatu cermin datar ataupun cekung yang terdapat dibawah kondensor. Cermin in akan mengarahkan cahaya dari luar kedalam kondensor. Pada mikroskop modern sudah dilengkapai lampu sebagai pengganti cahaya matahari.
Lensa objektif bekerja dalam pembentukan bayangan pertama. Lensa ini menentukan struktur dan bagian renik yang akan menentukan daya pisah specimen, sehingga mampu menunjukkan struktur renik yang berdekatan sebagai dua benda yang terpisah.Lensa okuler, merupakan lensa mikroskop yang terdapat dibagian ujung atas tabung, berdekatan dengan mata pengamat. Lensa ini berfugsi untuk memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa objektif. Perbesaran bayangan yang terbentuk berkisar antara 4-25 kali. Lensa kondensor berfungsi untukk mendukung terciptanya pencahayaan padda objek yang akan difokus, sehinga pengaturrnnya tepat akan diperoleh daya pisah maksimal, dua benda menjadi satu. Perbesaran akan kurang bermanfat jika daya pisah mikroskop kurang baik. (Mikroskop wikipeda 14/10/2014)


2.      Mikroskop Stereo

Mikroskop stereo merupakan jenis mikroskop yang hanya bisa digunakan untuk benda yang berukuran relative besar. Mikroskop stereo memiliki perbesasran 7 hingga 30 kali. Benda yang diamati dengan mikroskop ini dapat dilihat secara 3 dimensi. Komponen utama mikroskop stereo hamper sama dengan mikroskop cahaya. Lensa terdiri atas lensa okuler dan lensa objektif. Beberapa perbedaan dengan mikroskop cahaya adalah: (1) ruang ketajaman lensa mikroskop stereo jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mikroskop cahaya sehingga kita dapat melihat bentuk tiga dimensi benda yang diamati, (2) sumber cahaya berasal dari atas sehingga objek yang tebal dapat diamati. Perbesaran lensa okuler biasannya 3 kali, sehingga perbesaran objek total minimal 30 kali. Pada bagian bawah mikroskop terdapat meja preparat. Pada daerah dekat lenda objektif terdapat lampu yang dihubungkan dengan transformator. Pengaturan fokus objek terletak disamping tangkai mikroskop, sedangkan pengaturan perbesaran terletak diatas pengatur fokos. (Mikroskop wikipeda 14/10/2014)


3.      Mikroskop Elektron

Adalah sebuah mikroskop yang mampu melakuakan peambesaran obyek sampai duajuta kali, yang menggunakan elektro statik dan elektro magnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki kemampuan pembesaran objek serta resolusi yang jauh lebih bagus dari pada mikroskop cahaya. Mikroskop elektron ini menggunakan jauh lebih banyak energi dan radiasi elektro magnetik yang lebih pendek dibandingkan mikroskop cahaya.
Macam –macam mikroskop elektron:
1) Mikroskop transmisi elektron (TEM)
2) Mikroskop pemindai transmisi elektron (STEM)
3) Mikroskop pemindai elektron
4) Mikroskop pemindai lingkungan elektron (ESEM)
5) Mikroskop refleksi elektron (REM) (Mikroskop wikipeda 14/10/2014)


4.      Mikroskop Ultraviolet

Suatu variasi dari mikroskop cahaya biasa adalah mikroskop ultraviolet. Karena cahaaya ultraviolet memiliki panjang gelombang yang lebih pendek dari pada cahaya yang dapat dilihat, penggunaan cahaya ultra violet untuk pecahayaan dapat meningkatkan daya pisah menjadi 2 kali lipat daripada mikroskop biasa. Batas daya pisah lalu menjadi umum. Karena cahaya ultra violet tak dapat dilihat oleh mata manusia, bayangan benda harus direkam pada piringan peka cahaya photografi Plate. Mikroskop ini menggunakan lensa kuasa, dan mikroskop ini terlalu rumit serta mahal untuk dalam pekerjaan sehari-hari. (Volk, Wheeler, 1988, mikrobiologidasar, Jakarta. Erlangga)


5.      Mikroskop Fluoresens

Mikroskop pender ini dapat digunakan untuk mendeteksi benda asing atau Antigen (seperti bakteri, ricketsia, atau virus) dalam jaringan. Dalam teknk ini protein antibodi yang khas mula-mula dipisahkan dari serum tempat terjadinya rangkaian atau dikonjungsi dengan pewarna pendar. Karena reaksi Antibodi-Antigen itu besifat khas, maka peristiwa pendar akan terjadi apabila antigen yang dimaksud ada dan dilihat oleh antibody yang ditandai dengan pewarna pendar. (Volt, Wheeler, 1988. mikrobiologi dasar, Jakarta. Erlangga


6.      Mikroskop Medan-Gelap

Mikroskop medan gelap digunakan untuk mengamati bakteri hidup khususnya bakteri yang begitu tipis yang hampir mendekai batas daya mikroskop majemuk. Mikroskop medan-Gelap berbeda dengan mikroskop cahaya majemuk biasa hanya dalam hal adanya kondensor khusus yang dapat membentuk kerucut hampa berkas cahaya yang dapat dilihat. Berkas cahaya dari kerucut hampa ini dipantulkan dengan sudut yang lebih kecil dari bagian atas gelas preparat. (Volk, Wheeler, 1988. Mikrobiologi Dasar Jakarta. Erlangga)


7.      Mikroskop Fase Kontras

Cara ideal untuk mengamati benda hidup adalah dalam kadaan alamiahnya tidak diberi warna dalam keadaan hidup, namun pada galibnya fragma benda hidup yang mikroskopik (jaringan hewan atau bakteri) tembus cahaya sehingga pada masing-masing tincram tak akan teramati, kesulitan ini dapat diatasi dengan menggunakan mikroskop fase kontras. Prinsip alat ini sangat rumit, apabila mikroskop biasa digunakan nuklus sel hidup yang tidak diwarnai dan tidak dapat dilihat, walaupun begitu karena nucleus dalam sel, nucleus ini mengubah sedikit hubungan cahaya yang melalui meteri sekitar inti. Hubungan ini tidak dapaat ditangkap oleh mata manusia. Namun suatu susunan filter dan diafragma pada mikroskop fase kontras akan mengubah perbedaan fase ini menjadi perbedaan dalam terang yaitu daerah-daerah terang dan bayangan yang dapat ditangkap oleh mata dngan demikian nucleus (dan unsure lain yang sejauh ini tak dapat dilihat menjadi dapat dilihat (Volk, Wheeler, 1988, Mikrobiologi dasar, Jakarta. Erlangga).


Label:

Laporan Praktikum Genetika Tumbuhan | Acara 2 Teori Kemungkinan



LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA TUMBUHAN


ACARA II
TEORI KEMUNGKINAN










Semester:
Ganjil 2014





Oleh:
Akbar Wahyu Haji
A1L113037/G






KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN DAN BIOTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2014
I.         PENDAHULUAN



A.      Latar Belakang


Terbentuknya individu hasil perkawinan yang dapat dilihat dalam wujud fenotip, pada dasarnya hanya merupakan kemungkinan – kemungkinan pertemuan gamet jantan dan betina. Keturunan hasil perkawinan atau persilangan tidak dapat dipastikan begitu saja, melainkan diduga berdasarkan peluang yang ada. Sehubungan dengan itu, teori kemungkinan sangat penting dalam genetika.
Evaluasi hipotesis genetik memerlukan suatu uji yang dapat mengubah deviasi - deviasi dari nilai – nilai yang diharapkan menjadi probabilitas dari ketidaksamaan demikian yang terjadi oleh peluang. Uji ini harus pula memperhatikan besarnya sampel dan jumlah peubah (derajat bebas). Uji ini dikenal sebagai uji X² (Chi Square Test).
Analisis peluang sangat berguna terutama dalam mempelajari sifat – sifat kualitatif. Peluang adalah suatu kemungkinan yang akan terjadi/timbul, dinyatakan dengan nilai antara 0 sampai 1. Kejadian yang mustahil terjadi yaitu mempunyai 0 atau 0%, tetapi yang pasti terjadi mempunyai nilai 1 atau 100%.

B.       Tujuan


Praktikum acara 2 teori kemungkina bertujuan untuk mengetahui dan berlatih menggunakan uji X² dan dapat menggunakannya kembali untuk persilangan yang sesungguhnya.

II.      TINJAUAN PUSTAKA



Probabilitas atau istilah lainnya kemungkinan, kebolehjadian, peluang dan sebagainya umumnya digunakan untuk menyatakan peristiwa yang belum dapat dipastikan. Dapat juga digunakan untuk menyatakan suatu pernyataan yang tidak diketahui akan kebenarannya, diduga berdasarkan prinsip teori peluang yang ada. Sehubungan dengan itu teori kemungkinan sangat penting dalam mempelajari genetika. Kemungkinan atas terjadinya sesuatu yang didinginkan adalah sama dengan perbandingan antara sesuatu yang diinginkan itu terhadap keseluruhannya ( Suryo, 1984 ).
Dalam ilmu genetika teori kemungkinan ikut berperan penting. Misalnya mengenai pemindahan gen-gen dari induk / parental ke gamet-gamet, pembuahan sel telur oleh spermatozon, berkumpulnya kembali gen-gen di dalam zigot sehingga dapat terjadi berbagai macam kombinasi. Untuk mengevaluasi suatu hipotesis genetik diperlukan suatu uji yang dapat mengubah deviasi-deviasi dari nilai-nilai yang diharapkan menjadi probabilitas dan ketidaksamaan demikian yang terjadi oleh peluang. Uji ini harus memperhatikan besarnya sampel dan jumlah peubah ( Yatim, 1991 ).
Uji chi-kuadrat atau chi-square digunakan untuk menguji homogenitas varians beberapa populasi. Uji Chi Square merupakan uji yang dapat mengubah deviasi dari nilai – nilai yang diharapkan menjadi probabilitas dari ketidaksamaan demikian yang terjadi oleh peluang. Uji ini harus memperhatikan besarnya sampel dan besarnya peubah / derajat bebas ( Yatim, 1991 ).
III.   METODE PRAKTIKUM



A.      Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan dalam praktikum acara 2 adalah mata uang logam, dan lembar pengamatan. Sedangkan alat yang digunakan meliputi: uang logam, kalkulator, dan alat tulis.

B.       Prosedur Kerja


1.             Satu keping mata uang logam dilempar ke atas, lalu dicatat hasilya (angka atau gambar) . Pelemparan dilakukan 50x dan 100x. Analisis hasilnya dengan uji X².
2.             Dilakukan hal yang sama untuk kasus dua keping mata uang logam yang dilempar sekaligus serta kasus tiga mata uang logam yang dilempar sekaligus.
3.             Semua data dicatat pada lembar pengamatan yang disediakan pada saat praktikum, sedangkan hasil analisis dapat ditulis pada lembar yang tersedia dalam diktat.


IV.   HASIL DAN PEMBAHASAN



A.      Hasil


1.             Pelemparan satu koin
a.         Pelemparan sebanyak 50x

Karakteristik
Jumlah
A (angka)
G (gambar)
O
21
29
50
E
50
24,5
0,98
0,49
0,49
0,98
Kesimpulan:
X² tabel (3,84) > X² hitung (0,98) → hasil pengujian signifikan, artinya pengujian sesuai dengan teori.
b.        Pelemparan sebanyak 100x

Karakteristik
Jumlah
A (angka)
G (gambar)
O
45
55
100
E
100
40,5
0,81
0,405
0,405
0,81
Kesimpulan:
X² tabel (3,84) > X² hitung (0,81) → Hasil pengujian signifikan, artinya pengujian sesuai dengan teori.
2.             Pelemparan 2 koin
a.         Pelemparan sebanyak 50x

Karakteristik
Jumlah
AA
AG
GG
Observasi (O)
12
26
12
50
Harapan (E)
50
1,5
0,08
0,02
0,04
0,02
0,08
Kesimpulan:
X² tabel (5,99) > X² hitung (0,8) → Hasil pengujian signifikan, artinya pengujian sesuai dengan teori.
b.        Pelemparan sebanyak 100x

Karakteristik
Jumlah
AA
AG
GG
Observasi (O)
25
39
36
100
Harapan (E)
100
242
7,26
0
2,42
4,84
7,26
Kesimpulan:
X² tabel (5,99) > X² hitung (7,26) → Hasil pengujian tidak signifikan, artinya pengujian tidak sesuai dengan teori.
3.             Pelemparan 3 koin
a.         Pelemparan sebanyak 50x

Karakter yang diamati
Jumlah total
AAA
AAG
AGG
GGG
Observasi (O)
7
20
17
6
50
Harapan (E)
50
 = 0,5625
 = 1,5625
 = 3,0625
 = 0,0625
5,25
0,3466
0,09
0,0833
0,1633
0,01
0,3466
Kesimpulan:
X² tabel (7,81) > X² hitung (3,466) → hasil pengujian signifikan, artinya pengujian sesuai dengan teori.
b.        Pelemparan sebanyak 100x

Karakter yang diamati
Jumlah total
AAA
AAG
AGG
GGG
Observasi (O)
13
36
38
13
100
Harapan (E)
100
 = 0,0625
 = 5,0625
=0,0625
 = 0,0625
5,25
0,14667
X2
0,005
0,135
0,00167
0,005
0,14667
Kesimpulan:
X² tabel (7,81) > X² hitung (0,14667) → hasil pengujian signifikan, artinya pengujian sesuai dengan teori.

B.       Pembahasan


Suatu evaluasi hipotesis genetik memerlukan uji atau tes yang dapat mengubah deviasi – deviasi dari nilai – nilai yang diharapkan menjadi probabilitas dari ketidaksamaan yang terjadi. Keterkaitan teori kemungkinan atau teori peluang dengan ilmu genetika adalah untuk memprediksi terbentuknya individu baru dari hasil perkawinan antara dua induk dengan sifat atau karakter berbeda yang dapat dilihat dalam wujud fenotip, karena keturunan hasil perkawinan / persilangan tidak dapat dipastikan begitu saja, melainkan hanya diduga berdasarkan peluang yang ada. Oleh karena itu, peranan teori kemungkinan sangat penting dalam mempelajari genetika.
Pada hasil uji Chi Square, ada yang signifikan dan ada pula yang tidak signifikan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hasil uji Chi Square tidak signifikan atau tidak sesuai perbandingan, diantaranya adalah ketelitian mahasiswa dalam mengambil sampel, kepastian perbandingan rasio fenotip pada sampel (misalnya pada penyediaan jumlah kancing warna baju pada acara 5 harus  sesuai dengan perbandingan fenotip sampel). Faktor lainnya adalah ketelitian mahasiswa dalam proses penghitungan, karena hal ini sangat berpengaruh pada hasil penghitungan yang akan dibandingkan dengan teori. Oleh karena itu, mahasiswa harus betul – betul jeli dalam melakukan percobaan uji Chi Square agar hasil percobaan signifikan dan hipotesis dapat diterima. Untuk standar signifikan X² tabel yaitu sebanyak 5% dengan perbandingan X² hitung. Jika X² hitung melebihi perbandingan standar X² tabel 5%, maka hasil tidak signifikan.
Selain penggunaan Uji Chi square dalam menyelesaikan percobaan kemungkinan, ada juga rumus lainnya, diantaranya yaitu penggunaan rumus Binomium atau disebut juga operasi Binomial dengan rumus (a+b)n. Misalnya perkawinan dua orang bergenotip Aa, berapa kemungkinan anak pertama bergenotip AA dan anak kedua juga bergenotip AA atau anak pertama Aa dan anak kedua Aa. Untuk menjawab pertanyaan seperti ini kita menggunakan operasi binomial.
 
a dan b: besarnya kemungkinan dari suatu peristiwa
n: banyaknya semua peristiwa.
Dalam teori peluang digunakan uji Chi Square atau X² karena uji X² menguji rasio hasil pengamatan terhadap suatu karakter kualitatif apakah mengikuti suatu pola rasio tertentu atau tidak. Selain itu uji Chi Square digunakan karena menguji kesamaan atau kehomogenan beberapa ragam atau variasi. Pada genetika, biasanya materi yang diuji terdiri dari berbagai genotip yang berasal dari berbagai generasi turun – temurun. Ada lagi alasan mengapa uji Chi Square digunakan, yaitu untuk menguji apakah suatu gugus data hasil pengamtan mengikuti sebaran tertentu (misalnya distribusi normal).
Dari semua percobaan yang telah kami lakukan bahwa ada keberhasilan dalam pengujian teori peluang ini dengan menggunakan pelemparan mata uang logam, kemudian dicatat hasilnya. Setelah dicatat barulah diuji dengan menggunakan rumus Chi Square atau uji X². Dalam hal ini, uji X² memiliki fungsi atau peran untuk mengetes apakah rasio fenotip praktis dapat dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan fenotip rasio teoritis. Selain itu pelemparan homogen berfungsi memberikan peluang yang sama terhadap masing – masing sisi baik angka maupun gambar dalam masing – masing karakter yang diamati.
Hasil pengujian yang diperoleh pada pelemparan 1 koin sebanyak 50kali adalah signifikan atau sesuai teori karena X² tabel (3,84)> X² hitung (0,98). Pada pelemparan 1 koin sebanyak 100 kali X² yang diperoleh sebesar 0,81 oleh karenaitu hasil pengujian signifikan. Pada percobaan 2 koin sekaligus sebanyak 50 kali didapatkan X² hitung 0,08 dengan X² tabel 5,99, sehingga data yang diperoleh signifikan. Sedangkan X² hitung pada pelemparan 2 koin sebanyak 100 kali sebesar 2,76 sehingga data yang diperoleh signifikan karena X² tabel 5,99. Pelemparan 3 koin sekaligus sebanyak 50 kali memperoleh X² hitung sebesar 3,466 sedangkan X² tabel sebesar 7,81 sehingga data yang diperoleh signifikan. Pada pelemparan 3 koin sebanyak 100 kali didapatkan X² hitung sebesar 0,14667 artinya data yang diperoleh signifikan karena X² tabel sebesar 7,81.


V.      KESIMPULAN DAN SARAN



A.      Kesimpulan


1.             Kemungkinan atau istilah lainnya kebolehjadian, probabilitas, peluang dan sebagainya umumnya digunakan untuk menyatakan peristiwa yang belum dapat dipastikan
2.             Dalam praktikum kali ini digunakan uji X² atau dikenal sebagai uji Chi Square. Uji ini menggunakan taraf 5% atau 1% karena sudah menjadi kebiasaan.
3.             Penggunaan teori kemungkinan dan uji X² dapat digunakan untuk memudahkan dalam menentukan hasil persilangan yang sesungguhnya
4.             Teori peluang atau teori kemungkinan sangat berperan penting bagi ilmu genetika karena hasil perkawinan atau persilangan tidak dapat dipastikan begitu saja tetapi berdasarkan peluang yang ada.


B.       Saran


Dalam pelaksanaan praktikum dilakukan dengan cermat, teliti dan hati – hati, tidak tergesa – gesa agar mendapatkan hasil yang maksimal, memuaskan, ditrima atau signifikan.



DAFTAR PUSTAKA



Crowder, L.V. 1986. Genetika Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press.
Dwijoseputro, D. 1977. Pengantar Genetika. Jakarta : Bharata.
Suryo. 1984. Genetika. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Sujana. 1976. Metode Statistik. Bandung : Tarsito.
Yatim, Wildan. 1991. Genetika. Bandung : Tarsito.