Laporan Praktikum Genetika Tumbuhan | Acara 3 Persilangan Monohibrid
LAPORAN
PRAKTIKUM
GENETIKA
TUMBUHAN
ACARA
III
PERSILANGAN
MONOHIBRID

Semester:
Ganjil
2014
Oleh:
Akbar
Wahyu Haji
A1L113037
/ G
KEMENTERIAN
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS
JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS
PERTANIAN
LABORATORIUM
PEMULIAAN TANAMAN DAN BIOTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2014
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sebelum Mendel
sesungguhnya sudah banyak juga banyak dilakukan pengamatan genetis terhadap
berbagai tanaman, yang tujuannya untuk mendapat varietas buah dan sayur yang bermutu
dan menghasilkan banyak. Ada 2 sarjana yang melakukan percobaan genetika
sebelum Mendel, yakni T.A Knight (1799) dan J. Goss (1824). Knight memakai
kacang ercis untuk bahan percobaan, ia menyilangkan 2 varietas yang berbeda
warna pada batang, bunga dan biji. Sedangkan Goss melakukan percobaan pada
buncis. Dari percobaan tiga generasi ini, Goss tak dapat membuat rumusan
karakter itu.
Mendel berhasil membuat
rumusan karakter itu, dan membuat perbandingan matematis. Ia juga bayak
malakukan percobaan terhadap tanaman kacang ercis yang ditanam di sekitar
pekarangan rumahnya. Ia melakukan pernyerbukan silang buatan terhadap bunga –
bunga ercis untuk beberapa generasi. Hasil percobaan dan kesimpulannya
dimasukkan dalam suatu karangan berjudul “Experiments
in Plant Hybridation”, dan dia bacakan di depan sidang Himpunan Sejarah
Alam Brunn tahun 1865.
Hukum Mendel I; Pemisahan gen sealel, dalam bahasa
Inggris disebut; Segregation of allelic
genes. Peristiwa pemisahan sealel ini, terlihat ketika pembikinan gamet
individu yang memiliki genotip heterozigot, sehingga tiap gamet mengandung
salah satu alel itu. Hukum ini disebut juga Hukum
Segaregasi. Berdasarkan percobaan menyilang 2 individu yang memiliki 1
karakter berbeda ; Monohibrid (Yatim,
1986).
B.
Tujuan
Praktikum
acara III tentang persilangan monohibrid bertujuan untuk membuktikan Hukum
Mendel I pada persilangan monoihibrid.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Mendel
menyilangkan kacang kapri atau ercis (Pisum
Sativum) karakter normal (tinggi) dengan kacang kapri rendah (abnormal).
Ukuran yang normal itu ialah 1,8 m, yang kerdil 0,3 m. Melakukan persilanga itu
penyerbukan sendiri dicegah lebih dulu dengan membuang benang sari bunga
bersangkutan sebelum sempat matang, lalu serbuk sari dari batang pohon lain
yang diinginkan dilekatkan ke kepala putik, sehingga terjadilah penyerbukan
silang buatan. Biji yang dihasilkan oleh bunga yang disilangkan itu ditanam,
tumbuhlah tanaman yang memiliki karakter hasil persilangan (Yatim, 1986).
Salah
satu alasan mengapa Mendel memilih meneliti tanaman ercis adalah tanam itu
tersedia dalam banyak varietas. Misalnya satu varietas memiliki bunga ungu
sedangkan varietas yang lain berbunga putih. Keuntungan dari penggunaan tanaman
ercis adalah waktu generasinya yang pendek dan jumlah keturunan yang banyak
dari setiap perkawinan. Selain itu, Mendel juga dapat mengontrol perkawinan
antar tanaman dengan ketat. Organ – organ reproduksi tanaman ercis terletak
pada bunganya dan setiap bungan ercis memiliki penghasil polen (stamen/benang
sari) sekaligus organ pengandung sel telur (karpel/putik)
(Campbell, 2008).
Biji – biji yang ditanam itu ia menemukan bahwa semuanya
tumbuh berupa kacang yang normal (tinggi). Jika kacang hasil silangan ini
disilangkan lagi sesamanya, ternyata biji yang tumbuh dari silangan itu ada 2
rupa. Sebagian tinggi, sebagian rendah (Yatim, 1986).
III. METODE PRAKTIKUM
A. Bahan dan Alat
Bahan
yang digunakan dalam praktikum acara ini meliputi: biji kedelai, media tanam
(tanah) dan lembar pengamatan. Alat yang digunakan antara lain: seedbox, petridish dan alat tulis.
B. Prosedur Kerja
1.
Biji populasi P1,P2, F1 dan F2 ditanam pada
seedbox berisi tanah
2.
Biarkan biji kedelai tumbuh dan
berkecambah
3.
Warna batang yang muncul (putih atau
ungu) diamati
4.
Warna batang biji ditabulasikan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
P1 : P1.1 >< P1.2
(Grobogan) (Muria)
(Ungu / H) (Hijau / h)
Gamet : HH >< hh
F1 : Hh
F2 : 1HH : 2Hh : 1hh
Tabel
uji X2 hasil pengamatan warna batang kedelai
Karakteristik yang diamati
|
Jumlah total
|
||
Ungu
|
Hijau
|
||
Observasi (O)
|
13
|
5
|
18
|
Harapan (H)
|
18
|
||
0
|
|||
![]() |
0
|
||
X²
|
0
|
0
|
0
|
Kesimpulan:
X² tabel (3,84)< X² hitung,sehingga hasil yang diperoleh signifikan (sesuai
dengan perbandingan Hukum Mendel I).
B. Pembahasan
Mendel
menyimpulkan hukum segregasi dari percobaan – percobaan yang hanya mengikuti
satu karakter tunggal, misalnya warna
bunga. Semua progeni F1 yang dihasilkan dalam persilangan – persilangan yang ia
lakukan dari induk galur murni merupakan monohibrid,
artinya bersifat heterozigot hanya untuk satu karakter. Kita menyebut
persilangan diantara heterozihot – heterozigot semacam itu sebagai persilangan monohibrid (monohybrid cross).
Peristiwa hukum Mendel 1 (pemisahan gen
sealel) terlihat ketika pembentukan gamet individu yang memiliki genotip
heterozigot, sehingga tiap gamet mengandung salah satu alel itu. Hukum Mendel 1
juga disebut Hukum Segregasi. Berdasarkan
percobaan menyilang 2 individu yang memiliki satu karakter berbeda biasa kita
sebut dengan Persilangan Monohibrid.
Pengamatan persilangan
monohibrid yang telah dilakukan menggunakan varietas kedelai Muria dan kedelai
Grobogan. Kedelai varietas Muria dilepas pertama kali pada tahun 1987. Produktivitas
kedelai varietas Muria memiliki 1,8 ton per hektar dan mempunyai
kelebihan/kunggulan tahan terhadap penyakit karat daun. Sedangkan varietas
kedelai yang satunya lagi adalah kedelai Grobogan. Varietas Grobogan merupakan
varietas lokal yang sudah sejak lama menjadi mayoritas pilihan petani Jawa
Tengah. Keunggulan atau kelebihan varietas ini adalah umurnya
lebih pendek, polongnya besar dan
tingkat kematangan polong dan daun bersamaan, oleh karena itu, saat dipanen
daun kedelai sudah rontok.
Persilangan monohibrid merupakan persilangan
antar dua spesies yang sama dengan satu sifat yang beda. Persilangan monohibrid
mempunyai fungsi terutama pada bidang pertanian yaitu, para ilmuwan berhasil
menyilangkan berbagai jenis padi sehingga akhirnya ditemukan bibit padi yang
memiliki sifat unggul berdaya hasil tinggi, umur pendek, dan rasanya enak.
Ditemukan pula bibit kelapa hibrida dan jagung hibrida yang berdaya hasil
tinggi.
Sel
mangalami pembelahan sel pilinan itu jadi sangat rapat, sehingga kromatin memendek dan membesar. Waktu
itu dapatlah kita mengamati dan terlihat jelas bagian – bagiannya dibawah
mikroskop, itulah yang disebut kromosom. Seperti
yang telah disinggung istilah kromosom di acara 1 tentang pengamatan perilaku
kromosom. Kromonema itu, baik ketika dalam bentuk kromatin maupun kromosom,
terdiri dari beberapa serat (fibril) halus dan dibina atas 2 macam molekul: DNA
(asam nukleat deoksiribosa) dan
protein. Proteinnya terutama berupa histon.
Gen ialah unit bahan genetis, dan istilahnya diperkenalkan pertama kali oleh W.
Johanssen. Gen terdiri dari DNA, sedang histon yang disebut diatas berada
disebelah luar atau diantaranya. Gen –gen yang terletak pada lokus sama, memiliki pekerjaan sama,
hampir sama atau berbeda tetapi untuk satu tugas tertentu disebut alel. Lokus adalah tempat tertentu pada kromosom yang diduduki oleh satu
alel dari suatu sifat. Bentuk luar atau bagaimana
kenyataannya karakter yang dikandung suatu individu disebut fenotip, contohnya antara lain rambut
pirang, rambut lurus, mata biru, hidung mancung, golongan darah A, bule dsb. Sedangkan bentuk atau susunan genetis suatu karakter yang dikandung suatu
individu disebut genotip, misalnya
dalam setiap sel tubuhnya AA, Aa, Cc, Aa Bb, r’R’.
Tahap
praktikum acara tiga adalah siapkan
seedbox yang telah diisi dengan tanah yang telah dilembabkan, kemudian letakan
secara merata biji kedelai yang telah disediakan, tunggu selama kurang lebih satu minggu sampai berkecambah serta sampai muncul warna pada batang kedelai (F2)
tersebut muncul kemudian diamati. Hasil yang kami dapatkan pada praktikum kali
adalah 12 batang kedelai berwarna ungu dan 4 batang berwarna putih.
Hasil dari perhitungan kelompok kami, X² sebesar 0,8 kurang dari X² tabel
sebesar 3,84 maka hasil tersebut signifikan atau sesuai dengan perbandingan.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Persilangan monohibrid adalah persilangan pada suatu
organisme yang memiliki satu sifat beda. Hukum Mendel I disebut juga Hukum segregasi atau
pemisahan gen sealel yang menghasilkan perbandingan genotip F2 = 1 :
2 : 1. Pada kasus dominan penuh, keturunan yang didapatkan pada F1
akan menunjukan perbandingan fenotip dominan dan resesif 3:1 atau perbandingan
genotip 1:2:1. Perbandingan fenotip menggunakan uji X². Kesimpulan yang
diperoleh X² tabel (3,84)< X² hitung, sehingga hasil yang
diperoleh signifikan (sesuai dengan perbandingan Hukum Mendel I).
B. Saran
Sebaiknya praktikum dilaksanakan dengan benar – benar teliti
dan cermat juga memperhatikan prosedur kerja.
DAFTAR
PUSTAKA
Crowder,
L.V. 1986. Genetika Tumbuhan. Gadjah
Mada University Press :
Yogyakarta.
Campbell, Neil A. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Erlangga : Jakarta.
Dwijoseputro, D. 1977. Pengantar Genetika. Bharata : Jakarta.
Suryo. 1984. Genetika. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.
Yatim, Wildan. 1991. Genetika. Tarsito : Bandung.


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda